Minggu, 20 Juli 2014

maafkan akuu



Untuk Temanku yang Terlukai
Catatan ini aku tulis di pertengahan malam itikaf saat aku berdiam diri di kamar merenungi segala kesalahan yang aku perbuat selama aku hidup. Mulai dari kesalahan kepada kedua orang tua, teman sekolah dasar sampai kuliah. Ya Allah.. ampunilah dosa hamba yang menghitamkan hati ini sehingga berdampak jelek dalam pertemanan kami, itu semua kesalahan yang aku perbuat, kesalahan yang aku ciptakan sendiri karna noda hitam yang membelenggu di hati ini. Noda hitam itu adalah sebuah rasa ‘iri’ kepada teman seperjuanganku. Memang, rasa iri kepada hal yang baik itu tak apa. Tapi aku tidak bisa mengontrolnya, aku mulai memberontak ketika suatu acara, suatu jabatan, pekerjaan itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang “beruang” saja.
Akuu memberontaak, aku tau penyebab aku memberontak karena aku salah satu pihak dari kaum proletar/ kaum bawah. Aku memberontak karena aku tidak bisa jauuh berpengalaman seperti dia, aku ingin sekali bisa mengikuti banyak acara yang besar, intensif untuk mendapatkan ilmu terlebih ilmu agama yang mumpuni. Dari sekolah menengah, saya sangat ingin tinggal di DT namun sampai sekarang ini aku tidak bisa mencapai apa yang aku cita-citakan. Lagi-lagi faktor penghambatnya adalah biaya. Biaya yang sangat besar untuk mengikuti sebuah acara yang aku anggap sangat bermanfaat membuatku harus lebih bisa dalam menjaga istilahnya nafsu/keinginanku, sampai-sampai minggu akhir ramadhan inilah puncaknya aku berontak.. banyak keinginanku yang sebenarnya sangat mudah dicapai tapi terhambat oleh biaya. Betapa beraaaatnyaaa menunda sejenak keinginan yang telah lama aku inginkann itu untuk tercapai.
            Maafkan akuu temaan, maafkan akuu, maafkan akuu..
Terhambatnya biaya ini seharusnya aku jadikan motivasi untuk terus maju untuk menjadi orang “kaya”. Kaya dalam hal apapun. Islam juga melarang ummatnya miskin, menjadi seorang yang beragama islam haruslah kaya. Kaya hati dan kaya harta. Dengan kaya hati, kita bisa lebih rendah hati dengan orang lain, bisa berlapang dada, bisa mentoleransi orang yang berbeda dengan  kita. Degan kaya harta kita bisa semakin dekat dengan orang-orang kurang mampu yang ada di sekeliling kita, menikmati indahnya berbagi dengan harta kita. Karena sesungguhnya, di setiap harta orang kaya itu terdapat beberapa persen hak dari orang yang kurang mampu, dengan harta pula kita bisa menggali ilmu di berbagai majelis ilmu yang bermanfaat, mengubah cara berpakaian kita dan lainnya.
Aku iri denganmu yang bisa jauuh berpengalaman dariku
Aku iri denganmu bisa belajar dimanapun yang kamu mau tanpa terhambat faktor ekonomi
Aku iri dengan kepribadianmu yang kamu asah denga ilmu yang kamu dapatkan
Aku iri dengan semangatmu untuk berusaha jauh menjadi orang yang lebih baik
Aku iri dengan lingkungan kampusmu yang nyaman dengan teman seideologimu
Aku iri dengan pencapaianmu di ekonomi
Ak iri dengan sifatmu yang lemah lembut, tutur kata yang baik
Semua keIRIanku ini karena aku ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan ilmu yang aku dapat, tapi sedikit pengalaman yang aku jelajahi karena faktor itu tadi. Padahal, untuk bermanfaat bagi orang lain, faktor utamanya adalah kita memiliki ilmu, memiliki kemauan, ilmu dijaman sekarang dominan bisa didapatkan dengan uang. Sedangkan dari faktor pendukung untuk menjadi orang yang bermanfaat tadi aku hanya memiliki sebuah “ kemauan” tanpa didukung dengan pengalaman yang baiik, dan lagi-lagi karena keterbatasanku dalam pembiayaan .
Maafkan akuu temaaan.. maafkaaan sifat jelekku ini..
Aku hanya memintaa tolong, doakan selalu akuu diselipan doamu untuk bisa mengubah kekuranganku menjadi suatu potensi kelebihan diriku, agar aku menjadi orang yang kaya hati dan kaya harta.. J
Sampai jumpa dalam pertemuan 5tahun ke depaan. Istiqomahlaah
Wasalamualaikum wr.wb