Untuk
Temanku yang Terlukai
Catatan ini aku tulis
di pertengahan malam itikaf saat aku berdiam diri di kamar merenungi segala
kesalahan yang aku perbuat selama aku hidup. Mulai dari kesalahan kepada kedua
orang tua, teman sekolah dasar sampai kuliah. Ya Allah.. ampunilah dosa hamba yang
menghitamkan hati ini sehingga berdampak jelek dalam pertemanan kami, itu semua
kesalahan yang aku perbuat, kesalahan yang aku ciptakan sendiri karna noda
hitam yang membelenggu di hati ini. Noda hitam itu adalah sebuah rasa ‘iri’
kepada teman seperjuanganku. Memang, rasa iri kepada hal yang baik itu tak apa.
Tapi aku tidak bisa mengontrolnya, aku mulai memberontak ketika suatu acara,
suatu jabatan, pekerjaan itu hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang
“beruang” saja.
Akuu memberontaak, aku
tau penyebab aku memberontak karena aku salah satu pihak dari kaum proletar/
kaum bawah. Aku memberontak karena aku tidak bisa jauuh berpengalaman seperti
dia, aku ingin sekali bisa mengikuti banyak acara yang besar, intensif untuk
mendapatkan ilmu terlebih ilmu agama yang mumpuni. Dari sekolah menengah, saya
sangat ingin tinggal di DT namun sampai sekarang ini aku tidak bisa mencapai
apa yang aku cita-citakan. Lagi-lagi faktor penghambatnya adalah biaya. Biaya
yang sangat besar untuk mengikuti sebuah acara yang aku anggap sangat
bermanfaat membuatku harus lebih bisa dalam menjaga istilahnya
nafsu/keinginanku, sampai-sampai minggu akhir ramadhan inilah puncaknya aku
berontak.. banyak keinginanku yang sebenarnya sangat mudah dicapai tapi
terhambat oleh biaya. Betapa beraaaatnyaaa menunda sejenak keinginan yang telah
lama aku inginkann itu untuk tercapai.
Maafkan
akuu temaan, maafkan akuu, maafkan akuu..
Terhambatnya biaya ini seharusnya
aku jadikan motivasi untuk terus maju untuk menjadi orang “kaya”. Kaya dalam
hal apapun. Islam juga melarang ummatnya miskin, menjadi seorang yang beragama
islam haruslah kaya. Kaya hati dan kaya harta. Dengan kaya hati, kita bisa
lebih rendah hati dengan orang lain, bisa berlapang dada, bisa mentoleransi
orang yang berbeda dengan kita. Degan
kaya harta kita bisa semakin dekat dengan orang-orang kurang mampu yang ada di
sekeliling kita, menikmati indahnya berbagi dengan harta kita. Karena
sesungguhnya, di setiap harta orang kaya itu terdapat beberapa persen hak dari
orang yang kurang mampu, dengan harta pula kita bisa menggali ilmu di berbagai
majelis ilmu yang bermanfaat, mengubah cara berpakaian kita dan lainnya.
Aku iri denganmu yang bisa jauuh
berpengalaman dariku
Aku iri denganmu bisa belajar
dimanapun yang kamu mau tanpa terhambat faktor ekonomi
Aku iri dengan kepribadianmu yang
kamu asah denga ilmu yang kamu dapatkan
Aku iri dengan semangatmu untuk
berusaha jauh menjadi orang yang lebih baik
Aku iri dengan lingkungan kampusmu
yang nyaman dengan teman seideologimu
Aku iri dengan pencapaianmu di
ekonomi
Ak iri dengan sifatmu yang lemah
lembut, tutur kata yang baik
Semua keIRIanku ini karena aku
ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan ilmu yang aku dapat,
tapi sedikit pengalaman yang aku jelajahi karena faktor itu tadi. Padahal,
untuk bermanfaat bagi orang lain, faktor utamanya adalah kita memiliki ilmu,
memiliki kemauan, ilmu dijaman sekarang dominan bisa didapatkan dengan uang.
Sedangkan dari faktor pendukung untuk menjadi orang yang bermanfaat tadi aku
hanya memiliki sebuah “ kemauan” tanpa didukung dengan pengalaman yang baiik,
dan lagi-lagi karena keterbatasanku dalam pembiayaan .
Maafkan akuu temaaan.. maafkaaan
sifat jelekku ini..
Aku hanya memintaa tolong, doakan
selalu akuu diselipan doamu untuk bisa mengubah kekuranganku menjadi suatu
potensi kelebihan diriku, agar aku menjadi orang yang kaya hati dan kaya
harta.. J
Sampai jumpa dalam pertemuan 5tahun
ke depaan. Istiqomahlaah
Wasalamualaikum
wr.wb